Selasa, 25 Maret 2008

Betawi dan Budayanya

Diambil dari Bamus Betawi.
Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing. Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Cina, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab,dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an.
Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa. Mereka adalah hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu.
Seorang budak belian perempuan dari Bali. Diawali oleh orang Sunda, sebelum abad ke-16 dan masuk ke dalam Kerajaan Tarumanegara serta kemudian pakuan Pajajaran. Selain orang Sunda, terdapat pula pedagang dan pelaut asing dari pesisir utara Jawa, dari berbagai pulau Indonesia Timur, dari Malaka di semenanjung Malaya, bahkan dari Tiongkok serta Gujarat di India.
Waktu Fatahillah dengan tentara Demak menyerang Sunda Kelapa (1526/27), orang Sunda yang membelanya dikalahkan dan mundur ke arah Bogor. Sejak itu, dan untuk beberapa dasawarsa abad ke-16, Jayakarta dihuni orang Banten yang terdiri dari orang yang berasal dari Demak dan Cirebon. Sampai JP Coen menghancurkan Jayakarta (1619), orang Banten bersama saudagar Arab dan Tionghoa tinggal di muara Ciliwung. Selain orang Tionghoa, semua penduduk ini mengundurkan diri ke daerah kesultanan Banten waktu Batavia menggantikan Jayakarta (1619).
Pada awal abad ke-17 perbatasan antara wilayah kekuasaan Banten dan Batavia mula-mula dibentuk oleh Kali Angke dan kemudian Cisadane. Kawasan sekitar Batavia menjadi kosong. Daerah di luar benteng dan tembok kota tidak aman, antara lain karena gerilya Banten dan sisa prajurit Mataram (1628/29) yang tidak mau pulang. Beberapa persetujuan bersama dengan Banten (1659 dan 1684) dan Mataram (1652) menetapkan daerah antara Cisadane dan Citarum sebagai wilayah kompeni. Baru pada akhir abad ke-17 daerah Jakarta sekarang mulai dihuni orang lagi, yang digolongkan menjadi kelompok budak belian dan orang pribumi yang bebas. Sementara itu, orang Belanda jumlahnya masih sedikit sekali. Ini karena sampai pertengahan abad ke-19 mereka kurang disertai wanita Belanda dalam jumlah yang memadai. Akibatnya, benyak perkawinan campuran dan memunculkan sejumlah Indo di Batavia. Tentang para budak itu, sebagian besar, terutama budak wanitanya berasal dari Bali, walaupun tidak pasti mereka itu semua orang Bali. Sebab, Bali menjadi tempat singgah budak belian yang datang dari berbagai pulau di sebelah timurnya.
Orang Tiong Hoa senang main kartu. Lukisan A van Pers dari tahun 40-an abad yang lalu, yang diterbitkan pada tahun 1856 di Den Haag. Sementara itu, orang yang datang dari Tiongkok, semula hanya orang laki-laki, karena itu mereka pun melakukan perkawinan dengan penduduk setempat, terutama wanita Bali dan Nias. Sebagian dari mereka berpegang pada adat Tionghoa (mis. Penduduk dalam kota dan ‘Cina Benteng’ di Tangerang), sebagian membaur dengan pribumi (terutama dengan orang Jawa dan membentuk kelompok Betawi Ora, mis: di sekitar Parung). Tempat tinggal utama orang Tionghoa adalah Glodok, Pinangsia dan Jatinegara.
Keturunan orang India -orang koja dan orang Bombay- tidak begitu besar jumlahnya. Demikian juga dengan orang Arab, sampai orang Hadhramaut datang dalam jumlah besar, kurang lebih tahun 1840. Banyak diantara mereka yang bercampur dengan wanita pribumi, namun tetap berpegang pada ke-Arab-an mereka.
Di dalam kota, orang bukan Belanda yang selamanya merupakan mayoritas besar, terdiri dari orang Tionghoa, orang Mardijker dari India dan Sri Lanka dan ribuan budak dari segala macam suku. Jumlah budak itu kurang lebih setengah dari penghuni Kota Batavia.
Orang Jawa dan Banten tidak diperbolehkan tinggal menetap di dalam kota setelah 1656. Pada tahun 1673, penduduk dalam kota Batavia berjumlah 27.086 orang. Terdiri dari 2.740 orang Belanda dan Indo, 5.362 orang Mardijker, 2.747 orang Tionghoa, 1.339 orang Jawa dan Moor (India), 981 orang Bali dan 611 orang Melayu. Penduduk yang bebas ini ditambah dengan 13.278 orang budak (49 persen) dari bermacam-macam suku dan bangsa (demikian Lekkerkerker). Gereja Immanuel di Gambir pada pertengahan abad ke 18
Sepanjang abad ke-18, kelompok terbesar penduduk kota berstatus budak. Komposisi mereka cepat berubah karena banyak yang mati. Demikian juga dengan orang Mardijker. Karena itu, jumlah mereka turun dengan cepat pada abad itu dan pada awal abad ke-19 mulai diserap dalam kaum Betawi, kecuali kelompok Tugu, yang sebagian kini pindah di Pejambon, di belakang Gereja Immanuel. Orang Tionghoa selamanya bertambah cepat, walaupun sepuluh ribu orang dibunuh pada tahun 1740 di dalam dan di luar kota.
Oleh sebab itu, apa yang disebut dengan orang atau Suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, dan Melayu. Antropolog Univeristas Indonesia, Dr Yasmine Zaki Shahab MA menaksir, etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893.
Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Casle. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, di mana dikategorisasikan berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi.
Rumah Bugis di bagian utara Jl Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang imulai pada tahun 1690. Pada awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah seperti ini di daerah KotaHasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan Moors, orang Jawa dan Sunda, orang Sulawesi Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Banda, dan orang Melayu. foto pada kartu pos dari awal abad ke 20 menggambarkan rumah-rumah Tiong Hoa di Maester. Jalan ke kiri menuju pasar Jatinegara lama. Sedangkanjalan utama adalah Jatinegara Barat menuju arah selatan. Namun, pada tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia waktu itu.
Antropolog Universitas Indonesia lainnya, Prof Dr Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong.
Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat Moh Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.
Sejak akhir abad yang lalu dan khususnya setelah kemerdekaan (1945), Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi - dalam arti apapun juga - tinggal sebagai minoritas. Pada tahun 1961, ’suku’ Betawi mencakup kurang lebih 22,9 persen dari antara 2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu. Mereka semakin terdesak ke pinggiran, bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. Walaupun sebetulnya, ’suku’ Betawi tidaklah pernah tergusur datau digusur dari Jakarta, karena proses asimilasi dari berbagai suku yang ada di Indonesia hingga kini terus berlangsung dan melalui proses panjang itu pulalah ’suku’ Betawi hadir di bumi Nusantara.**Bapeda

Suku Asmat


Suku Asmat adalah sebuah suku di Papua. Suku Asmat dikenal dengan hasil ukiran kayunya yang unik. Populasi suku Asmat terbagi dua yaitu mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman. Kedua populasi ini saling berbeda satu sama lain dalam hal dialek, cara hidup, struktur sosial dan ritual. Populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi ke dalam dua bagian yaitu suku Bisman yang berada di antara sungai Sinesty dan sungai Nin serta suku Simai.
Ada banyak pertentangan di antara desa berbeda Asmat. Yang paling mengerikan adalah cara yang dipakai Suku Asmat untuk membunuh musuhnya. Ketika musuh dibunuh, mayatnya dibawa ke kampung, kemudian dipotong dan dibagikan kepada seluruh penduduk untuk dimakan bersama. Mereka menyanyikan lagu kematian dan memenggalkan kepalanya. Otaknya dibungkus daun sago yang dipanggang dan dimakan.
Sekarang biasanya, kira-kira 100 sampai 1000 orang hidup di satu kampung. Setiap kampung punya satu rumah Bujang dan banyak rumah keluarga. Rumah Bujang dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan. Rumah keluarga dihuni oleh dua sampai tiga keluarga, yang mempunyai kamar mandi dan dapur sendiri. Hari ini, ada kira-kira 70.000 orang Asmat hidup di Indonesia. Mayoritas anak-anak Asmat sedang bersekolah.

Wayang Suket, tidak Tunduk pada Pakem

Wayang Suket, tidak Tunduk pada Pakem
JIKA ada pertunjukan wayang yang demikian imajinatif dalam memainkan tokoh-tokohnya, itu adalah pertunjukan wayang suket (rumput) garapan Ki Dalang Slamet Gundono. Apa pasal, sehingga pertunjukan yang digarapnya itu demikian imajinatif? Sebab anak wayang yang dimainkannya itu dibuat dari puluhan batang rumput, yang dirangkai dan dianyam sedemikian rupa. Jenis rumput yang dirangkai dan dianyam sehingga menjadi anak wayang itu adalah jenis rumput alang-alang, rumput gajah, rumput teki, dan mendong yang sering dijadikan tikar mendong.
Dalang Wayang Sukek, Ki Dalang Slamet Gundono berdialog dengan wayang raksasa kolaborasi dengan Jendela Ide dalam pertunjukan di Sabuga Bandung, Sabtu (10/2).* M. GELORA SAPTA/"PR"
Rupa anak wayang yang dibuatnya itu, tentu saja tidak seperti wayang kulit meskipun sama pipihnya. Dalam wayang kulit, kita masih bisa menemukan corak pakaian, dan rupa para tokohnya yang diberi warna dan hiasan sedemikian rupa. Sedangkan dalam wayang suket, hal itu tidak kita temukan. Namun demikian, dari "batang-batang" rumput yang diolah, dirangkai, dan dianyam secara khusus itu, hasilnya ada yang mencitrakan burung, orang, dan bahkan senjata tertentu dengan bentuk yang pipih. Di tanah Sunda, bentuk wayang semacam itu ada kalanya dibuat dari "tangkai" daun ketela pohon.
Pertunjukan wayang suket yang dikreasi Ki Dalang Slamet Gundono menarik perhatian, karena sang dalang ketika memainkan anak wayang yang tengah dipegangnya itu, ada kalanya tidak dimainkan sebagaimana memainkan wayang golek atau wayang kulit. Wayang suket kadang hanya dipegang, atau ditekankan ke dada sang dalang. Pada saat demikian maka yang menari bukan wayang, melainkan sang dalang itu sendiri. Fungsi dalang dalam pertunjukan tersebut, tidak hanya berperan sebagai orang yang memainkan anak wayang, tetapi juga sebagai penari dan penembang sekaligus. Selain itu, waditra (alat musik tradisional) yang ditabuh pun bukan waditra yang lengkap sebagaimana dalam pertunjukan wayang golek maupun wayang kulit. Di dalam pertunjukan wayang suket, ada kalanya Slamet Gundono memanfaatkan alat musik ukulele yang dipetik saat menembang, atau saat menekan suasana pada adegan-adegan tertentu.
Berkait dengan daya kreativitas semacam itu, teaterawan Rendra pernah mengatakan bahwa apa yang dikreasi Ki Dalang Slamet Gundono termasuk dalam jenis wayang kontemporer dengan basis tradisi sebagai titik pijaknya, yakni tradisi wayang kulit, meski tidak sepenuhnya memainkan tradisi tersebut. Apa sebab? Karena ada banyak pakem pertunjukan tradisional yang dilanggarnya.
**
DALAM pertunjukan kali ini yang digelar di salah satu gedung di lingkungan Gedung Sabuga, Jln. Tamansari Bandung, pada Sabtu malam (10/2), Ki Dalang Slamet Gundono tidak memainkan lakon carangan maupun lakon pokok dari cerita wayang sebagaimana yang pernah dipertunjukkan di berbagai tempat. Ia memainkan lakon tanpa alur dan bahkan tanpa konflik. Ini terjadi, karena anak wayang yang dipegangnya itu berinteraksi dengan anak-anak yang tengah digali potensinya untuk ikut berproses kreatif main wayang.
Ada kalanya ketika Ki Dalang Slamet Gundono yang berat tubuhnya mencapai 350 kg itu sedang menembang dan menari, anak-anak dibuat tertawa. Apa sebab? Karena gerak tubuh Ki Dalang Slamet itu sendiri jadi tontonan yang menarik pula. Lantas, apakah ketika menari, tubuh Ki Slamet tampak kaku? Justru tidak. Ia malah tampak lentur. Ki Slamet selain mahir memainkan wayang, baik wayang suket maupun wayang kulit, memang dikenal sebagai penari, pemain teater, dan juga penembang dengan warna vokal yang khas, yang menarik untuk diapresiasi.
Interaksi anak-anak dengan Ki Dalang Slamet dalam pertunjukan sarat dengan gelak-tawa karena pertunjukan yang digelarnya itu bukan pertunjukan yang sudah diskenario sebelumnya. Dengan demikian, dialog antara dalang dengan si anak atau antara si anak dengan si anak yang berlangsung secara spontan itu, sering melahirkan ungkapan-ungkapan yang lucu ketika apa yang diucapkan oleh si anak kemudian diplesetkan oleh sang dalang.
Pertunjukan wayang suket dengan demikian, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ki Dalang Slamet Gundono dalam berbagai kesempatan di Bandung, adalah pertunjukan wayang terbuka, yang tidak tunduk pada pakem. Misalnya, ia tidak harus main di atas panggung. Ia bisa main di lapangan tanpa panggung, bisa sambil duduk atau berdiri. "Yang penting dalang bisa menari dan menembang!" jelas Ki Slamet. Pertunjukan wayang suket itu sendiri baru digelar untuk pertamakalinya oleh Ki Slamet Gundono tahun 1999.

http://kl1p1ng.blogspot.com/2007/03/wayang-suket-tidak-tunduk-pada-pakem.html

Tentang asal mula Suku Dayak

Tentang asal mula suku bangsa Dayak, banyak teori yang diterima adalah teori imigrasi bangsa China dari Provinsi Yunan di Cina Selatan. Penduduk Yunan ber-imigrasi besar-besaran (dalam kelompok kecil) di perkirakan pada tahun 3000-1500 SM (SM). Sebagian dari mereka mengembara ke Tumasik dan semenanjung Melayu, sebelum ke wilayah Indonesia. Sebagian lainnya melewati Hainan,Taiwan dan filipina.
Pada migrasi gelombang pertama yang oleh beberapa ahli disebut proto-melayu, datanglah kelompok negroid dan weddid. Sedangkan gelombang kedua, dalam jumlah yang lebih besar di sebut Deutero-Melayu. Para migran Deutero-Melayu kemudia menghuni wilayah pantai Kalimantan dan disebut suku Melayu. Proto-melayu dan Deutero-melayu sebenarnya berasal dari negeri yang sama.
Menurut H.TH. Fisher, migrasi dari asia terjadi pada fase pertama zaman Tretier. Saat itu, benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara masih menyatu, yang memungkinkan ras mongoloid dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan Muller-Schwaner.
Dari pegungungan itulah berasal sungai-sungai besar seluruh Kalimantan. Diperkirakan, dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977-1978)
Cerita selanjutnya suku Dayak adalah tentang bagaimana mereka menghadapi gelombang-gelombang kelompok lain yang datang ke Kalimantan. Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak, sering disebut ”Nansarunai Usak Jawa”, yakni sebuah kerajaan Dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 (Fridolin Ukur,1971). Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman.
Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasala dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1608). Sebagian besar suku Dayak memeluk Islam tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai orang Melayu atau orang Banjar. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman di Kalimantan Tengah, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Lawas dan Watang Balangan. Sebagain lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin, salah seorang Sultan Kesultanan Banjar yang terkenal adalah Lambung Mangkurat sebenarnya adalah seorang Dayak (Ma’anyan atau Ot Danum)
Tidak hanya dari nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa diperkirakan mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming tahun 1368-1643. Dari manuskrip berhuruf kanji disebutkan bahwa kota yang pertama di kunjungi adalah Banjarmasin. Tetapi masih belum jelas apakah bangsa Tionghoa datang pada era Bajarmasin (dibawah hegemoni Majapahit) atau di era Islam. Kedatangan bangsa Tionghoa tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik (Departeman Pendidikan dan Kebudayaan,1977-1978)
Bahkan sumber lain menyebutkan sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Raja Yung Lo mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Chang Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan diantaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci (Sarwoto kertodipoero,1963)ang asal mula Suku Dayak

http://nordin-journal.blogspot.com/2006/08/tentang-asal-mula-suku-dayak.html

Budaya Indonesia (1)

Budaya!!!!
Apa itu hanya sebutan bagi segelintir budayawan dan pemerhati saja.
Saya adalah segelintir orang Indonesia yang sangat mengagumi budaya lokal, "Mungkin".
Namun, ketika saya melihat diberbagai pagelaran seni, ternyata saya salah. Saya cuma dapat beranggap bahwa budaya kita telah mati, karena pergeseran jaman yang sangat kejam. Mungkin saya masih benar. Lihat saja, dimanakah baju batik kita yang kita banggakan? Dimanakah peradaban norma-norma susila yang kita agungkan lewat berbagai seni budaya? Dimanakah pola hidup kita yang cenderung konsumtif ketika kita berkunjung ke luar negeri?
Saya ada ide untuk Pemerintah khususnya dan masyarakat Indonesia pada umunya, antara lain :
  1. Bukankah memakai pakaian daerah bagi pelajar/mahasiswa/kantor pemerintahan sangat menyenangkan!
  2. Bukankah sangat menyenangkan bila tidak ada lagi produk semacam sosis, siomay, bakpao atau lain sebagainya dilingkungan kita, melainkan semua masyarakat hany menjual getuk lindri, geplak, tetel sebagai jajanan sehari-hari, terlebih untuk dilingkungan sekolah. Begitu sangat menyehatkan dan murah!
  3. Bukankah sangat menghibur ketika kita menyalakan televisi, namun yang kita lihat bukanlah spiderman atau superman atau filem barat lainnya. Tapi, yang kita lihat adalah pagelaran seni wayang suket, wayang orang, ceritera tentang malin kundang, lawakan seperti, ludrukan atau seni budaya lainnya yang lebih lokalistik.
  4. Bukankah lebih baik pemerintah membatasi filem-filem luar negeri, pakaian-pakaian luar negeri yang tidak cocok dengan karakteristik atau sifat masyarakat Indonesia pada umumnya. Atau mungkin, kita yang menjual kepada negara lain mengenai budaya kita yang sangat beraneka ragam ini.
  5. Bukankah sangat menyenagkan bila kita menggelar seremoni seminggu sekali untuk kebudayaan kita ini. Bukan hanya upacara dan hormat pada bendera, tapi lebih pada pembuktian ekspresi seni budaya lokal dengan diselingi tarian piring misalnya, atau penutupan dengan menyanyikan lagu rasa sayange.

Tidak ada yang lebih istimewa melainkan Indonesia. kita mempunyai kebudayaan yang sangat majemuk. Lihat saja, Suku Asmat, mereka tidak jauh berbeda dengan orang-orang afrika pada umumnya. Mereka mempunyai karakteristik yang hampir sama.

Contoh lain, mungkin Suku Dayak. ini adalah suku yang sangat saya kagumi. Mereka mempunyai aliran dinamisme yang masih kental dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Indonesia dan bangsa ini harus menatap lebih jauh kedepan. kita tidak mungkin hanya dapat menghujat Malaysia yang akhir-akhir ini selalu mengklaim beberapa kebudayaan lokal kita. Misal, reog ponorogo dan lagu 'rasa sayange', yang jelas-jelas merupakan produk asli Indonesia. Namun, kita di "WAJIBKAN" untuk berkoordinasi dan berangkulan antar sesama bangsa. Pemerintah harus punya peranan penting dalam hal ini. Dan bangsa ini hanya bisa menunggu.

Maka dari itu, alangkah baiknya bila kita melakukan 5 hal diatas sebagai 'bukti' bahwa kita masih sayang pada negara ini.

Saya juga menunggu bagi pemerhati cultural local, agar menyisakan waktu untuk berpikir dan berdiskusi. Mungkin, dengan berdiskusi dan meluapkan emosi kemarahan dan kesedihan kita, kita dapat memberikan fasilitas bagi seluruh bangsa Indonesia untuk serentak menjual komoditas ekspor kita ini dengan besar-besaran kepada seluruh masyarakat dunia.

Kisah Pak Gepuk, “Sang Maestro” Wayang Suket, yang Tidak Terkenal

Wayang Suket itu sebetulnya dolanan anak-anak ini di desa. Ketika kerbau, sapi atau kambing sibuk makan rumput, bocah angon (anak gembala) mencoba menirukan para dalang yang memainkan wayang. Jadilah, rumput-rumput di sekitarnya dimanfaatkan untuk dijadikan model wayang, layaknya seorang dalang. Ini merupakan sebuah kebetulan atau ketidaksengajaan seseorang membuat wayang suket. Hal ini dikarenakan bapak maupun simbahnya seorang petani yang tiap hari ke sawah.
Suket di sawah tidak sengaja dimainkan, ketika petani tengah santai lalu main suket. Dijadikan sebuah bentuk, lalu diletakkan begitu saja. Dibuang bubar. Tak dimainkan dalam pentas sesungguhnya.Pengertian wayang itu kan oleh seniman. Pengertian wayang suket pada awalnya,. tidak dengan sendirinya dimainkan. Tapi, pengertian bawah sadar tentang suket di masa kecil itu kan sangat kuat dan sama sekali tidak berpikir bahwa, suket akan menjadi tren wayang suket.
Kenapa dinamakan wayang suket, karena wayang yang dimainkan terbuat dari rumput atau dalam bahasa Jawa disebut suket. Rumput memang dengan mudah bisa ditemukan di mana saja. Tetapi biasanya rumput yang dirangkai dan dijadikan wayang adalah rumput teki, rumput gajah, atau mendong, alang-alang yang biasa dianyam menjadi tikar. Kesemuanya memiliki tekstur kuat dan bentuk yang panjang-panjang. Wayang suket tak mempunyai bentuk yang baku, seperti halnya tokoh dalam wayang kulit atau golek. Sekilas rumput-rumput tersebut memang dibentuk laksana wayang kulit, yang dapat dimainkan dengan tangan. Namun untuk membedakan tokoh yang satu dengan lainnya sangat sulit. Sebab bentuknya yang hampir serupa. Pementasan wayang suket berbeda dengan pertunjukan wayang lainnya. Dan Slamet Gundonolah adalah pencetus pementasan wayang suket dan cukup terkenal tidak hanya di nusantara tetapi dudah sampai ke Jepang dan Amerika, bahkan ke Eropa. Pementasan ini mulai dirintis oleh Ki Dalang Slamet Gundono 1999.
Akan tetapi dibalik kesuksesan Gundono, ternyata ada seorang “maestro” yang tidak dikenal yang sebenarnya telah merintis pembuatan wayang suket. Sayang, wayang-wayang suket karyanya tidak pernah dipentaskan dan hanya dipamerkan. Siapakah dia? Pak Gepuk namanya. Nama Pak Gepuk mulai mencuat ketika hasil karyanya dipamerkan di Gedung Bentara Budaya Yogyakarta 1-8 September 1995 yang diselenggarakan oleh Lembaga Kebudayaan Indonesia Belanda Karta Pustaka dan Bentara Budaya Yogyakarta. Dari situlah pamor wayang suket mulai diperhitungksn dalam kancah perwayangan Indonesia.
Setelah Pak Gepuk hilang dari peredaran dunia perwayangan sampai akhir hayatnya, tiba-tiba di Tahun 2007 kembali muncul ketika banyak seniman-seniman Yogya menanyakan keberadaan Pak Gepuk. Hal ini terungkap ketika Museum Prof.Dr.Soegarda Purbalingga mengadakan pameran di Beteng Vredenberg Yogya.dan menampilkan wayang suket karya Pak Gepuk. Banyak sekali pertanyaan, kesan dan tanggapan yang begitu simpatik yang ditujukan kepada Pak Gepuk “Sang Maestro yang tidak terkenal”. Demikian julukan dari salah seorang seniman senior Yogyakarta dan mereka tidak menyangka bahwa Pak Gepuk sudah tiada. Berkaitan dengan itulah penulis tergugah hatinya untuk untuk mencari informasi siapakah Pak Gepuk ini? Mengapa di luar Purbalingga khususnya di pusat-pusat kesenian namanya begitu terkenal, tetapi di Purbalingga sendiri banyak yang tidak tahu, termasuk penulis. Dan akhirnya penulis menemukan tulisan mengenai Pak Gepuk dalam sebuah artikel yang dimuat dalam buku Cikar Bobrok karya Sindhunata dan pernah diterbitkan oleh sebuah koran nasioanl. Inilah kisahnya:
Ladang itu bernama Sawah Gunung, letaknya kuramg lebih lima kilometer dari Dusun Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Purbalingga. Di sana jagung sedang menghijau..Suasana sunyi sekali.Di ladang inilah Pak Gepuk melewatkan hari-harinya. Siang ia mencangkul dan mengolahnya.Di gubug reyot itu tak ada dipan, apalagi kasur. Yang terlihat hanyalah daun-daun pisang kering (klaras). Klaras itulah kasur buat Pak Gepuk. Kini Pak Gepuk sudah berusia 87 tahun (sekarang 97 tahun). Badannya sudah kelihatan renta, namun masih kuat dan giat mencangkul ladangya. Siang hari ia mendapat kiriman makanan dari anak perempuannya berupa nasi, sebungkus sayur dan tempe tahu.
Pak Gepuk suka bermalam di gubugnya dan jarang pulang ke rumahnya. Paling-paling-paling seminggu sekali. Pak Gepuk enggan pulang ke rumah, bukan hanya karena jalannya yang sudah mulai repot dan susah. Ia memang suka menyendiri dan menyepi dalam kesunyian sejak masa mudanya. Pernah ia tinggal di gubugnya 40 hari 40 malam tanpa pulang sekalipun.
Kesunyian itulah yang mewarnai dan melingkupi hidup Pak Gepuk. Kesunyian itu memberinya kekuatan agar ia tabah mengolah tanahnya. Kesunyian itu memberinya pengetahuan bahwa ala mini adalah guru bagi kehidupannya. Kesunyian itu mengajarinya bahwa keindahan itu ada dimana-mana, bahkan di dalam rumput.. Karena itu, di tangan Pak Gepuk rumput-rumput itu bisa dianyam menjadi karya seni berupa wayang.
Pak Gepuk itu petani sekaligus seniman. Pada dirinya hidup bertani dan hidup berseni itu adalah hal yang tak terpisahkan. Tanah, tempat ia mencangkul dan meneteskan keringatnya, adalah tanah tempat ia memperoleh rasa seni dan bahan keindahan. Tanah itu memberinya jagung dan ketela untuk dimakan dan menyambung hidup. Tanah itu juga memberinya rumoput untuk berkesenian dan mengungkapkan keindahan.
Tak ada orang mengajarinya bagaimana ia bertani. Sebagai anak petani, kemampuan bertani itu datang dengan sendirinya. Demikian pula ikhwal “keseniannya”.Waktu itu Pak Gepuk masih berusia lima belas tahun. Sehari-hari ia menjadi bocah angon.. Padang rumput adalah dunia Pak Gepuk. Dengan rumput-rumput itulah kambing-kambingnya mengenyangkan diri. Bukan hanya kambing, kehidupan manusia pun tergantuing pada rumput. Bagimana ia dapat hidup sebagai bocah angon jika tiada rerumputan.
Tiba-tiba ia merasa, dalam rerumputan, tanaman alam yang sederhana, itu terkandung kehidupan. Rumput, yang gunanya hanya untuk pengenyang binatang dan diinjak-injak manusia ternyata mengandung makna yang dalam. Pak Gepuk merenungi kekayaan rumput itu. Ia mencoba masuk ke dalam alam kesunyian rumput-rumput itu, kemudian muncullah keinginan dari benaknya, mungkinkah ia membuat wayang dari rumput?

http://www.purbalinggakab.go.id/

Belajar dan Bermain Bersama Bayi Usia 9 Bulan

Anak-anak kita belajar melalui bermain. Jika Anda memiliki bayi berusia 9 bulan, berarti dia sudah siap untuk belajar lebih banyak.
Cobalah berbagai aktifitas berikut ini untuk membantu si kecil mempelajari dunianya dengan cara yang mengasyikkan buat kalian berdua...Bermain dengan gambar-gambar
Untuk permainan ini, Anda tidak perlu mengeluarkan banyak biaya, cukup sedikit usaha mengumpulkan koran-koran atau majalah lama.
Duduklah bersama bayi Anda.
Tunjuk gambar-gambar yang ada di koran atau majalah tersebut, kemudian sebutkan namanya. Bisa juga Anda sebutkan kata kerja yang dilakukan oleh subyek gambar, warna dalam gambar, dan sebagainya.Bermain dengan teksturAnda pasti memiliki potongan-potongan kain bekas kan?
Nah, sekarang waktunya memanfaatkannya untuk bayi Anda.Tempelkan berbagai jenis potongan kain pada selembar karton. Bagusnya sih potongan tersebut terdiri dari berbagai jenis kain dengan tekstur yang bervariasi.
Sertakan kain korduroy, katun, vinyl, sutera, wol, bulu imitasi, misalnya.Ajak bayi Anda duduk bersama Anda dan bantu dia untuk meraba setiap perbedaan tekstur dengan tangannya. Jelaskan setiap tekstur dengan istilah-istilah seperti lembut, kasar, berbulu, dan seterusnya.
Bermain bongkar muatKumpulkan dus-dus makanan atau susu. Berikan kepada bayi Anda sebuah kantong kertas. Ajarkan padanya untuk mengisi kantong tersebut dengan dus-dus tadi, kemudian mengeluarkannya.
Sayangi bayi AndaBerikan sebuah boneka bayi atau binatang kepada si kecil. Ajari dia bagaimana caranya untuk menyayangi boneka tersebut.Tunjuk setiap bagian boneka dan sebutkan namanya masing-masing.
Tunjuk matanya dan sebutkan namanya, begitu pula dengan telinga, hidung, tangan, kaki, dan seterusnya.
Tunjukkan kepada bayi Anda anggota-anggota tubuhnya yang sama dengan yang ada pada boneka.
Anda bisa mengatakan, "Ini mata boneka. Mata Dede mana?"

http://tipsbayi.com/